Sejarah dan Perkembangan Popok

Label: ,

Oleh Humayroh
Kalau kita membicarakan sejarah cloth diapers, maka kita perlu pula untuk membicarakan sejarah diapers/popok itu sendiri. Sebab cloth diapers adalah salah satu jenis popok, sehingga sejarah cloth diapers adalah bagian dari sejarah popok.



Pembahasan dalam tulisan ini akan berkisar seputar sejarah popok dari zaman kuno sampai akhir abad ke-20. Dalam tulisan selanjutnya, insya Allah akan dibahas secara khusus sejarah popok kain modern alias cloth diapers.

Popok Prasejarah
Sejarah popok ini hampir setua peradaban umat manusia. Tentu saja, karena persoalan ngompol  yang menjadi sebab penciptaan diaper sudah ada sejak dulu kala. Pangkal persoalannya tetap sama dari masa ke masa; Pencegahan air seni dan tinja dari anak yang belum terlatih menggunakan kamar kecil, agar tidak tercecer ke sembarang tempat.


Ibu-ibu di zaman purba menggunakan kulit binatang, dedaunan, dan bahan-bahan lainnya sebagai popok untuk anak mereka. Variasi model dan aksesoris yang mereka gunakan sangat beragam, sesuai dengan budaya dan sumber daya alam yang tersedia di tempat mereka. Sebagai contoh; ibu-ibu suku Innuit, sebuah sub-suku Eskimo, mengumpulkan lumut selama musim panas mereka yang singkat, lalu meletakkannya di dalam kulit anjing laut yang mereka gunakan untuk membungkus bayi mereka.

Abad ke-19
Pada abad ke-19, popok modern mulai terbentuk dan ibu di banyak bagian dunia menggunakan bahan katun, dengan pengancing untuk mengencangkan popok di badan si anak. Popok kain yang pertama diproduksi massal di Amerika Serikat pada tahun 1887 oleh Maria Allen. Di Inggris popok terbuat dari kain handuk, dan seringkali disertai lapisan dalam yang terbuat dari kain kasa yang lembut.


Popok dengan pengancing
Abad ke-20
Awal abad ke-20, popok kain bisa dianggap sebagai satu-satunya pilihan. Bahkan pada saat Perang Dunia II tengah berkecamuk,  sebuah bisnis baru tumbuh dengan suburnya di berbagai negeri, yaitu bisnis pencucian popok! Tak perlu heran, karena banyak wanita di masa itu terjun ke dunia industri sebagai pekerja di pabrik-pabrik pembuat alat-alat perang. Bisnis ini sangat diminati karena banyak para ibu yang menyatakan ‘perang’ terhadap kegiatan mencuci popok!


Baby diaper service
Setelah PD II usai, ‘peperangan’ yang dikobarkan para ibu terhadap pencucian popok justru semakin sengit. Hal ini memicu lahirnya popok sekali pakai. Kelahiran popok sekali pakai ini mengalami proses evolusi yang cukup panjang. Ia lahir berkat penemuan beberapa orang di belahan benua yang berbeda.
Memasuki dekade 50-an, industri popok sekali pakai ini berkembang pesat. Beberapa pemain ‘kelas kakap’ memasuki industri ini. Iklim persaingan di antara pabrik-pabrik besar memiliki satu dampak positif yang cenderung menguntungkan konsumen. Persaingan mereka selalu melibatkan proses riset untuk memperoleh produk yang lebih unggul dari pesaingnya. Dalam kurun inilah perusahaan P&G memulai riset mereka untuk sebuah produk yang kelak menuai sukses besar, Pampers!

Kurun waktu 60-an hingga 80-an merupakan era keemasan popok sekali pakai. Kegandrungan orang pada produk-produk instan dan praktis punya andil besar dalam mendongkrak popularitasnya. Banyak inovasi yang diterapkan pada popok membuat performanya semakin baik. Persaingan industri juga membuat harganya semakin terjangkau. Dua perusahaan raksasa yang bersaing dalam industri ini adalah Procter & Gamble dengan Pampersnya, dan Kimberly-Clark dengan Huggies.

Beberapa fakta menarik seputar sejarah popok:
1.  Pada zaman purba, kebanyakan bayi di daerah tropis tidak memakai popok karena mereka biasanya  telanjang. Ups!
2.    Mungkin terdengar sembrono, tapi kenyataannya pada masa Elizabeth, atau masa keemasan dalam sejarah Inggris, popok bayi baru diganti setelah 4 hari! Bisa anda bayangkan?
3.   Ini mungkin lebih ‘ngeri’ lagi,  pada masa para pionir Eropa bergerak untuk membuka koloni-koloni baru, popok yang basah jarang sekali dicuci! Ia hanya dikeringkan di dekat perapian. Pesingnya seperti apa ya..?



Sumber bacaan:
·         Wikipedia
·         Diaper Jungle
·         Born To Love

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar