Sejarah dan Perkembangan Cloth Diapers

Label: , , ,


Oleh Humayroh
Artikel ini merupakan kelanjutan dari Sejarah dan Perkembangan Popok Jadi, bila anda belum sempat membacanya, saya sarankan anda membaca artikel tersebut terlebih dulu.

Dekade 90

Pada dekade ini, popok sekali pakai merupakan produk yang mendominanasi pasar. Pada masa ini pula, kesadaran masyarakat global akan pencemaran lingkungan hidup kian meningkat. Popok sekali pakai ini pun tak luput dari sorotan para pemerhati lingkungan. Isu utama yang diarahkan kepada popok sekali pakai adalah limbah yang dihasilkan dari pemakaiannya. Di AS saja, diperkirakan bahwa setiap tahunnya ada 27,4 miliar popok sekali pakai yang digunakan. Popok-popok itu berakhir sebagai 3,4 juta ton sampah yang dibuang di TPA[1].


Isu Pencemaran Lingkungan
Pada tahun 1990, Asosiasi Kesehatan Umum Amerika (APHA), mengadopsi sebuah resolusi untuk popok sekali pakai. Resolusi ini membahas dampak popok sekali pakai terhadap tempat pembuangan sampah, risiko terhadap pekerja sanitasi dan air tanah. Direktur Eksekutif APHA menyatakan, "APHA percaya bahwa ketergantungan pada popok sekali pakai, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dan risiko lingkungan."

Pakar lingkungan pun berpendapat bahwa popok sekali pakai ini memerlukan waktu 500 tahun untuk dapat terurai sempurna. Isu lingkungan ini pula yang menjadi salah satu alasan mengapa rumah sakit di negara-negara maju lebih memilih popok katun untuk digunakan di lingkungan mereka. Namun, sebenarnya alasan utamanya adalah kelembutan popok katun tersebut bagi kulit bayi.

Cloth Diapers Strike Back!


 
Isu pencemaran lingkungan ini menjadi pendorong bagi popok kain a.k.a. cloth diapers untuk memulai big comeback. Setelah sempat terpinggirkan oleh popok sekali pakai dalam pasaran popok, cloth diapers kembali disukai oleh banyak keluarga.

Pada tahun 1995, perusahaan Motherease didirikan di Kanada dan mulai menjual cloth diapers untuk pasaran Kanada dan AS. Masih dari Kanada, pada tahun 1997 lahirlah borntolove, sebuah situs yang memuat banyak artikel tentang cloth diapers.

Di akhir dekade 90-an ini, tren menggunakan cloth diapers terus menanjak. Industri cloth diapers menjanjikan keuntungan yang besar, dan dampaknya banyak merek cloth diapers baru yang bermunculan. Selain cloth diapers buatan pabrik, banyak pula ibu yang  menjahit sendiri cloth diapers untuk anak mereka.

Abad ke-21
Di negara-negara maju, popularitas cloth diapers kian meningkat. Semakin banyak keluarga yang menggunakan cloth diapers untuk anak-anak mereka. Berbagai inovasi baru diterapkan pada cloth diapers. Hal ini membuat cloth diapers mengalami perkembangan yang pesat, dari sisi desain dan material pembuatnya.

Dari kacamata bisnis, industri cloth diapers menarik minat para pemodal besar untuk terjun ke dalam pasar cloth diapers yang tumbuh dengan cepat. Sisi positifnya, persaingan antar produsen cloth diapers ini memicu perlombaan dalam peningkatan mutu cloth diapers yang mereka hasilkan. Sisi negatifnya, persaingan ini menyulut “peperangan” yang mengarah kepada aksi saling mengancam dan menjatuhkan. Di AS & Kanada, tahun 2002-2003 dikenal sebagai tahun perang cloth diapers.

Pada tahun 2006,  sebuah desain cloth diapers yang revolusioner hadir di pasaran. Desain itu adalah one-size cloth diapers, alias cloth diapers satu ukuran, yang bisa digunakan untuk bayi bari lahir sampai ia belajar buang air di kamar kecil.




Tahun 2007, di Australia lahir produk cloth diapers hibrida. Cloth diapers ini bisa menggunakan dua macam penyerap: penyerap kain yang bisa dicuci, seperti pada cloth diapers lainnya; atau penyerap sekali pakai yang dibuang setelah dipakai. Uniknya, penyerap sekali pakai ini menurut klaim produsennya bisa terurai secara alami.


Seiring waku yang terus berjalan, cloth diapers pun tentu akan terus mengalami perkembangan. Perkembangan apa yang akan terjadi pada cloth diapers? Kita tunggu saja! Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda untuk mengetahui secara singkat sejarah dan perkembangan cloth diapers.


Sumber bacaan:
·         Wikipedia
·         Diaper Jungle
·         Born To Love


kembali ke daftar artikel


[1] Paul, Pamela. "Diapers Go Green". Majalah Time Online.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar